Warisan itu Bernama Komunitas Sant’Egidio

2
Pose bersama anak panti. Foto: Maria Yemato Yenjeli Asmat

 

Komunitas Sant’Egidio adalah warisan berharga bagi kehidupan saya sebagai seorang murid yang terus belajar untuk menjadi lebih baik dan berguna bagi sesama, khususnya bagi orang-orang miskin.  Warisan yang saya terima kurang lebih 9 tahun bersama komunitas ini, merupakan anugerah yang sungguh luar biasa.

Warisan yang amat berharga ini adalah sebuah misi yang harus dibagikan kepada sesama yang miskin. Komunitas Sant’Egidio memiliki spiritualitas yaitu Injil dan Orang Miskin. Tanpa orang miskin, komunitas ini tidak ada. Atas dasar inilah saya bersama teman-teman muda di Labuan Bajo membentuk Komunitas Sant’Egidio dan mulai menjalin persahabatan dengan adik-adik berkebutuhan khusus di Pati Asuhan Hati Kudus MOP Wae Sambi, Labuan Bajo. Perjumpaan awal kami pada 22 Juli 2017 lalu merupakan moment yang begitu manis. Awalnya adik-adik agak canggung bertemu dengan kami tetapi itu bukanlah suatu masalah bagi kami untuk tetap berkenalan dengan mereka. Dalam pertemuan kurang lebih dua jam, kami mulai mencoba mengingat nama-nama mereka, layaknya seorang sahabat memanggil mereka dengan nama masing-masing. Sungguh bahagia bisa melihat senyuman di wajah mereka.

Seiring berjalannya waktu, persahabatan kami semakin erat. Mereka mulai menunjukkan sikap manja dan mulai menyapa kami dengan nama, walaupun terkadang salah. Mereka sangat gembira dengan kehadiran teman-teman komunitas yang selalu setia setiap sabtu hadir berjumpa dan berbagi kebahagiaan bersama mereka. Kami hadir dengan membawakan rangkaian kegiatan yang kami kemas beragam di setiap minggunya, seperti menari bersama mereka; melatih berhitung; melatih mewarnai gambar dan juga bernyanyi bersama. Adik-adik panti berjumlah 14 orang dengan kebutuhan khusus yang berbeda-beda, ada yang ringan dan ada yang berat. Dari ke-14 anak tersebut hanya empat orang yang bersekolah di SLBN Labuan Bajo. Mereka adalah Roi, Sebas, Tian dan Ronal. Adik-adik memiliki keunikan yang berbeda-beda, Ronal yang sukanya bernyanyi dari pada belajar,  Tian dan Sebas yang pintar dan berprestasi di sekolah, Roi yang memiliki tubuh lentur saat menari, Jo yang sangat ramah dan selalu tersenyum, Delfi yang selalu mengajak kami berdoa, Ansel yang suka mengajak kami jalan-jalan, Stef yang lucu, Irvan, Andre dan Rio yang suka menyendiri, Gusti si mungil yang suka digendong.

Kehidupan adik-adik dipanti sangatlah teratur. Mereka dilayani oleh para bruder yang sungguh memiliki hati yang sabar mendampingi mereka. Saya pun banyak belajar dari kesabaran para bruder dalam melayani adik-adik itu. Di tengah kehidupan yang baik itu, ada suasana lain yang mereka rindukan yaitu orang tua mereka. Mereka merindukan rumah dan keluarga mereka. Setiap kali saya  berjumpa dengan Roi dan Rona, mereka selalu katakana mereka rindu ayah dan ibu mereka. Mereka ingin pulang. Orang tua mereka jarang mengunjungi mereka. Inilah sosok-sosok pribadi yang patut kita jumpai. Kehadiran kami setidaknya mengobati rasa rindu mereka pada sanak keluarga mereka.  Jika tiba saatnya untuk berpisah dalam setiap kali pertemuan, mereka sering selipkan kata-kata “esok datang lagi kak’’. Rasanya berat tuk melangkahkan kaki keluar dari gerbang panti tetapi tentu ada aktivitas lain yang harus dijalankan. Kami terus berupaya untuk melanjutkan perjumpaan kami dalam doa Komunitas.

Persahabatan inilah yang menjadi warisan dalam kehidupan saya. Dari adik-adik saya belajar arti bersyukur dan menghargai perbedaan.  Persahabatan lahir karena perjumpaan dan kesetiaan. Persahabatan bukan tentang apa dan berapa banyak yang akan kamu berikan tetapi tentang kemauanmu untuk berhenti sejenak dari segala kesibukanmu dan datang berjumpa dan berbagi bersama mereka. Seperti semboyan Komunitas : Tidak ada satu pun orang yang terlalu miskin yang tidak bisa membantu orang miskin lainnya.

Kehadiran anda pasti menambah kebahagiaan dan keceriahan mereka di panti ini. Mari kita melangkah bersama untuk bergabung dengan komunitas ini, membagi kegembiraan dan memupuk persahabatan serta menumbuhkan kepedulian. Ayo bergabung. (Maria Yemato Yenjeli Asmat)

 

 

SHARE

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here