Menanam, Lalu Merawatnya dengan Sungguh, Hasilnyapun Sungguh-Sungguh

0
Ilustrasi Bawang Merah.
Ilustrasi Bawang Merah. Foto: Istimewa

Tempat ini hanya sebuah perkampungan biasa, ada nelayan ada juga petani sekaligus peternak yang berdomisili di sini. Saling berbaur, menyatu erat dalam hidup kesehariannya. Memupuk kebersamaan tanpa jenuh, itulah sebabnya persaudaraan di antara mereka terus terjaga.

Kampung Kendol namanya, terletak di Desa Nangalili, Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Walau sepintas suasananya terlihat biasa saja, namun tidak begitu dengan aktivitas keseharian warga kampung ini. Usaha dan kerja keras mereka sangat terlihat dari apa yang mereka panen.

Di saat sebagian besar warga Lembor dan Lembor Selatan fokus mengurus tanaman padinya di sawah, warga di kampung ini selalu menyisipkan waktunya untuk budi daya Bawang Merah. Bahkan ada di antara mereka yang saban hari hanya merawat tanaman bawangnya.

Sejak sekitar tahun 2010 silam, mereka mencoba membudi daya bawang. Mulai  tahun 2014, pemerintah menaruh perhatian khusus lewat bantuan benih Bawang Merah. Semangat dan ulet, membuat hasil panen Bawang Merah mereka sangat maksimal. Setelah mendapat benih, menanam, lalu merawatnya dengan sungguh dan hasilnyapun sungguh-sungguh memuaskan.

Kamis (14/9/2017), mereka mulai panen Bawang Merah di lahannya masing-masing. Total lahan Bawang Merah untuk tahun 2017 di kampung ini, seluas 7 hektar. Lahan bawang itu tidak dalam satu hamparan tetapi tersebar di sejumlah titik.

Bawang Merah basah yang berhasil dipanen per hektarnya tahun 2017 ini, sebanyak 43,2 ton. Dari jumlah tersebut, hasil kering per hektarnya 26 ton. Produksi  Bawang Merah tahun 2017 di kampung itu,  naik drastis dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2016 lalu, hasil bawang basah per hektarnya, 24 ton. Hasil keringnya 15 ton per hektar. Hujan yang terus mengguyur pada musim tanam tahun 2016, turut memperburuk hasil bawang mereka.

Ada dua kelompok yang konsen membudidaya Bawang Merah di kampung itu. Salah satunya adalah kelompok tani yang terdiri dari para ibu, yakni Kelompok Wanita Tani (KWT) Wela Pada. Satu kelompok lainnya adalah Kelompok Tani Lembo Nai.

Kepala Desa Nangalili, Candu M Tahir, saat panen simbolis Hari Kamis itu, meminta kepada pemerintah Kabupaten Mabar agar menyumbang traktor bajak, mesin pompa air, kawat duri untuk pagar, alat semprot, pestisida gulma dan pupuk. Sejumlah permintaan itu kata dia, bisa meningkatkan hasil panen mereka pada musim tanam selanjutnya.

Dia juga menyinggung kebutuhan para nelayan warga desanya yang perlu diperhatikan pemerintah. “Untuk nelayan, kesulitan kami yaitu alat penangkapan ikan yang tidak memadai, tempat penampungan ikan, alat pengawetan ikan dan jembatan tempat sandar perahu motor,” kata Tahir.

Sedangkan di bidang peternakan, dia menjelaskan bahwa tidak semua warganya selama ini mendapat bantuan ternak seperti sapi, kambing dan babi.
Selain itu warga setempat kata Tahir, masih membutuhkan pengetahuan cara pengembangbiakan ternak. Warga juga menurutnya, membutuhkan penyuluhan metode membuat pupuk kandang yang baik sehingga mendukung tanaman hortikultura.
Bupati Mabar, Agustinus Ch Dula yang hadir bersama wakilnya Maria Geong serta Wakil Ketua DPRD Abdul Ganir, meminta Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan agar menindaklanjuti permintaan warga.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Mabar, Anggalinus Gapul pada kesempatan tersebut meminta pihak desa untuk merincikan kebutuhan mereka lewat proposal, agar memudahkan dinas dalam memperhatikannya.(vistabeoge)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here