Ke Labuan Bajo, Sempatkan Diri Menatap Pemandangan Sawah ini

0
Unsur Forkompinda panen simbolis di Persawahan Handel, Kamis (7/9/2017).

Labuan Bajo tak hanya punya panorama bahari yang menyejukan hati. Juga tak sebatas punya pesona dahsyat tentang ratusan pulau yang berjejer indah. Tidak pula hanya panorama bukit-bukit berkelok, bagai bercumbu ria dengan bibir pantai. Ataupun hutan lebat yang masih terpelihara dan dihidupi berbagai jenis burung langka di Bentang Alam Mbeliling.

Jangan lupa, sawah-sawah di beberapa sudut kota Labuan Bajo menawarkan kesan khas tersendiri yang penuh menarik. Tanaman padi yang bertubuh hijau atau sudah menguning emas, menyambut setiap bola mata yang memandangnya. Aliran air di sekitar lokasi persawahan, turut membeningkan pikiran. Kesibukan petani yang menanam atau memanen dengan peralatan seadanya, bisa melengkapi asyiknya perjalanan wisata.

Dari beberapa lokasi sawah di kota pariwisata itu, salah satunya adalah Persawahan Handel. Terletak di Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo atau sekitar 10 km arah selatan Labuan Bajo.

Berwisata ke lokasi itu sebaiknya di pagi atau sore hari. Upayakan agar sudah berada di persawahan itu pada awal hari jam 06.00 Wita atau di sore hari pukul 16.30 Wita. Bila berkunjung di siang hari maka cuaca panas pasti mengganggu kesenangan.

Luas Sawah Handel sekitar 25 hektar. Dari jumlah tersebut, pada Musim Tanam (MT) kedua tahun 2017, ada 15 hektar yang menerapkan sistem legowo super dan sudah panen. Hasilnya dua kali lipat dari produksi tahun-tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan ada seratus hektar lebih luas persawahan di kawasan itu, berada di tiga desa.

Selain para petani pekerja keras, keramahtamahan mereka melengkapi kenikmatan untuk mengunjungi persawahan itu.

Gunung dan bukit yang berbaris panjang, bisa disaksikan dari tempat ini. Sesekali helai rambut yang rebah dikulit kepala, sontak terbangun terayun-ayun dihembus goda sang angin.

Dari pusat kota Labuan Bajo menuju lokasi ini, melewati Nggorang. Melintas ke arah SMAN 2. Dari sekolah itu berjalan lurus sekitar 3 Km, lalu mengambil ruas jalan kecil ke arah kanan. Tak lama berselang, lokasi persawahan tersebut menghiasi pandangan kita.

Pada MT kedua tahun 2017, Sawah Handel ditanami tiga varietas padi, tepat pada petak-petak milik Kelompok Tani Handel, yaitu Varietas Inpari 30; Inpari 32 dan Inpari 33.

Hasil panen Padi Inpari 30 sebanyak 9,68 ton per hektar; Inpari 32 sebanyak 10 ton per hektar dan Inpari 33 sebanyak 10,8 ton per hektar. Tahun-tahun sebelumnya, produksi padi di lahan sawah itu hanya sebanyak 5 sampai 6 ton per hektar.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) di lahan itu, Hironimus Emilianus Joma, SP saat ditemui di persawahan tersebut, menjelaskan bahwa pada MT kedua 2017, sistem tanam di lahan itu menggunakan pola Legowo 21.

“Keunggulannya mulai dari sarana yang dipakai, termasuk pupuk hayati dan sistem tanam pola Legowo 21. Maksudnya bukan ditanam acak-acak tetapi berbaris dan jaraknya diatur,” kata Hironimus, Kamis (7/9/2017).

Dijelaskannya, jarak antara baris tanaman 20 x 40 Cm, sedangkan jarak antara tanamannya 10 Cm dan jarak antara legowo 40 Cm.

Pada Kamis itu berlangsung panen simbolis yang dihadiri pejabat pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), aparat desa, tokoh masyarakat, petani, penyuluh serta pihak terkait lain.

Kepala Desa Compang Longgo, Fabianus Sugianto Odos, menyampaikan bahwa sistem legowo super, baru pertama kali diterapkan di lahan sawah itu.

“Sistem legowo super diterapkan pada 15 hektar lahan, yakni di lahan Kelompok Tani Handel. Ditanam pada awal Bulan Juni 2017 dan hari ini panen simbolis. Tidak ada serangan hama dan hasilnya bagus. Ini pertama kali tanam menggunakan sistem legowo super,” kata Fabianus.

Sementara itu, peneliti bidang budi daya Tanaman Pangan pada Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) NTT, Charles Y Bora, menjelaskan bahwa legowo 21 merupakan pola tanamnya. Sedangkan semua sistem yang diterapkan adalah legowo super.

“Hasil atau produksi dari sawah ini akan menjadi sumber benih karena berlabel ungu. Dipanen untuk menjadi label biru. Keunggulannya, tahan hama dan produksinya di atas rata-rata,” kata Charles.

Wakil Bupati Mabar, Maria Geong, saat menghadiri panen simbolis hari itu, mengapresiasi proses pendampingan yang dilakukan kepada Kelompok Tani Handel.

Sejumlah pihak yang melakukan pendampingan tersebut, antara lain Babinsa, Babinkamtibmas, PPL, Kepala Desa bersama tokoh masyarakat setempat, terutama Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) NTT dan Dinas Pertanian Mabar.

“Ada dukungan dan kekompakan. Ada pendampingan yang baik sekali, terutama dari PPL. Petaninya juga bekerja sungguh-sungguh. Terimakasih kepada BPTP bersama TNI, semuanya bekerja sama. Dari sini kita belajar, kekompakan dan gotong royong akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tentunya juga karena ada dukungan bibit yang baik,” kata Maria.

Mewakili Kepala BPTP, Dr Jakob Nulik, menyampaikan bahwa penerapan tekhnologi juga memberi pengaruh yang baik bagi hasil panen di sawah tersebut.

“Luar biasa kerja keras kelompok tani serta upaya pendampingan. Musim tanam pertama pada tahun depan kita berusaha agar lebih baik lagi, termasuk penerapan tekhnologinya. Pendampingan yang dilakukan oleh penyuluh, Babinsa, aparat desa serta semua komponen selama ini sudah dilakukan secara baik,” kata Jakob.

Ketua Kelompok Tani, Acmad menyampaikan bahwa awalnya mereka menolak penerapan sistem legowo super, namun setelah mendapat penjelasan dari Dinas Pertanian Mabar, merekapun menerimanya.

“Kami menerapkan pestisida hayati juga aplikasi. Pertumbuhan padi merata dan bagus, pohonnya keras serta hasilnya memuaskan,” kata Achmad.

Pihaknya meminta agar pemerintah memberikan bantuan traktor dan mesin panen. Warga lainnya meminta agar pemerintah menuntaskan pekerjaan saluran irigasi.(vistabeoge)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here